Mudik !

Lebaran, Mudik kemana??

Ya kata-kata itu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Secara bahasa, mudik berarti pulang ke kampung halaman. Kampung halaman dalam artian tempat kita lahir, atau bagi kita yang belum berkeluarga biasanya mudik itu pulang ke tempat nenek dan kakek.

Sebelum mudik pasti kita harus menyiapkan perbekalan untuk dijalan. Iya kan? Kita harus mempersiapkan kendaraan, makanan, oleh-oleh (buat orang yang kita kunjungi), pakaian, de el el.

Wah, dilihat dari arah pembicaraan, sepertinya kali ini kita akan membahas tentang mudik nih?! Anda benar!

Tapi kali ini kita akan membahas mudik yang berbeda dengan Mudik pada umumnya dilakukan saat lebaran. Mudik yang satu ini akan terjadi saat malaikat izro’il datang untuk menjemput kita ke ‘kampung halaman’ yang kekal abadi, bertemu dengan Kekasih kita yang tercinta.

Eits, jangan stop disini, terusin dulu bacanya!! karena kita semua pasti bakalan ngalamin ini. Siapapun kita, anak aparat, pejabat, atau rakyat, semua sama dan pasti akan mengalami hal ini.

Sebelum mudik ke tempat yang sangat spesial ini, tentunya kita juga harus mempersiapkan perbekalan. Jangan sampai nanti kita malah tersiksa karena kehabisan perbekalan. Perbekalan yang dimaksud disini tak lain dan tak bukan adalah amalan kita selama di dunia.

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat[51]:56)

Kita diciptakan di dunia ini hanya untuk beribadah. Nah, amal ibadah kita itulah yang nanti akan dibawa ketika menghadap sang Khaliq.

Ada analogi kehidupan dengan seorang penyelam. Seorang penyelam itu memiliki tugas menyelam untuk mengambil mutiara di dasar laut. Fasilitas yang diberikan kepada penyelam itu adalah peta dan tabung oksigen. Perlengkapan lain pun telah disiapkan, salah satunya adalah tali pengikat mutiara. Diperjalanan ia melihat banyak hal yang tampak begitu indah. Sang penyelam pun terlena dan tergoda akan keindahan yang dia lihat sehingga lupa akan tujuan awalnya, yaitu untuk mengambil mutiara. Suatu ketika dia kembali ingat akan kewajibannya mengambil mutiara. Akan tetapi oksigen yang digunakan sudah hampir habis. Dengan segera dia pun menuju dasar laut. Dia berhasil mengambil dan mengikat mutiara-mutiara itu. Namun oksigennya sudah hampir habis. Dengan terburu-buru dia kembali ke permukaan laut dan mutiara yang telah ia ikat tadi terlepas. Dan ketika dia sampai di atas, mutiara itu sudah habis tak tersisa.

Semoga kita hidup di dunia ini tidak seperti penyelam itu. Peta yang dimiliki penyelam itu adalah Al-Quran. Yang dipakai sebagai penunjuk jalan bagi kita. Kalau kita tidak pernah membacanya, bagaimana kita meraih tujuan kita? Tabung oksigen itu adalah nyawa kita. Tali pengikat mutiara itu adalah keimanan kita. Dan mutiara itu adalah tujuan kita, yaitu cinta dan Ridho Allah. Jangan sampai kita terlena dengan keindahan dunia yang sama sekali tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan keindahan surga.

Selamat menempuh kehidupan yang tak lama lagi akan berakhir..

1 Comment

Filed under Artikel

One response to “Mudik !

  1. ariza

    mantap…
    terus berkarya MILIS….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s