Dimana Allah ??

Ada sebuah cerita yaitu pada zaman dahulu kala di suatu padang pasir terdapat seorang pengembara. Dia bernama Abdullah bin Umar. Dia mengembara ke suatu tempat untuk melaksanakan ibadah. Ditengah perjalanan dia selalu berhenti untuk meminum seteguk air perbekalannya. Lama kelamaan kantong air perbekalannya habis karena selalu diminum setiap berhenti untuk istirahat. Dia melihat sekelilingnya namun yang ada hanyalah warna kecoklatan padang pasir yang terhampar luas.
Dia tetap bersabar dan melanjutkan perjalanannya. Suatu ketika dia menangkap beberapa titik hitam dan putih di kejauhan sana. Hatinya merasa lega karena setelah didekati, titik-titik hitam dan putih itu ialah pengembala dan kambing-kambingnya. Dia mengucapkan beribu2 syukur karena telah bertemu seseorang yang akan membantunya.
Selintas terpikir dalam benaknya untuk menguji pengembala tersebut. Dia ingin tau apakah ajaran islam telah sampai ke daerah tersebut.

Setelah mengucapkan salam, Abdullah bin Umar berkata kepada pengembala yang masih bocah itu, “Hai bocah, aq ingin membeli sebuah kambing yang kau gembalakan ini. Bekalku sudah habis.”
“Maaf tuan, aq hanyalah seorang budak yang bertugas yang mengembalakan kambing2 ini. Aq tidak bisa menjualnya karena kambing2 ini bukan milikku tetapi milik majikanku. Aq tidak diberi wewenang untuk menjualnya,” jawab pengembala kambing itu.
“Ah begini saja, kau jual seekor kambing saja padaku. Kambing yang kau jaga ini sangat banyak tentu sangat sulit untuk menghitung kambing yang begitu banyak ini. Kalaupun dia bisa menghitungnya dan tau bahwa hanya seekor kambing saja yang tidak ada, bilang saja telah dimakan serigala. Mudah sekali, bukan? Kau pun bias membawa uangnya,”bujuk Abdullah bin Umar.
“Lalu dimanakah Allah? Pemilik kambing ini memang tidak tau dan bisa dibohongi, tetapi ad Dzat yang Mahatahu, yang pasti melihat dan mengetahui apa yang kita lakukan. Apa kau kira Allah itu tidak ada?” jawab pengembala itu.
“Aku tidak diberi kuasa oleh pemilik kambing ini untuk menjualnya. Aku hanya diperbolehkan untuk mengembalakannya dan meminum air susunya ketika aq membutuhkannya dan memberikannya kepada mufasir yang kehausan,”sambung pengembala itu.
Sungguh jawaban itu membuat Abdullah bin Umar tersentak kaget.
Setelah diberikan minum oleh pengembala itu, lalu dia mohon diri. Ditengah perjalanan, dia selalu memikirkan kata2 pengembala itu sehingga dia mencari pemilik budak itu lalu memerdekakannya.
Seorang manusia yang jujur dan memiliki rasa ketakwaannya kepada Allah yang begitu tinggi tidaklah sepatutnya menjadi hamba sahaya manusia. Dia hanya pantas menjadi hamba Allah SWT.

Di sadur dari buku “ketika cinta berbuah surge” karya Habiburrahman El Shirazy

Leave a comment

Filed under Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s