tentang ibu

DAN PECAHLAH TANGIS KAMI…

Sadar telah mengusir lelap dari kepalaku. Gerah panas menyelimuti kamar menguapkan seluruh bunga tidurku. Terus menyadarkan diriku, pikiranku menerawang kemana-mana. Ribuan pertanyaan datang begitu saja tanpa perintah dengan satu keinginan, aku ingin mengecap perkuliahan.
Tanpa sadar, mataku terbuka. Tersentak bahwa aku belum menunaikan shalat Isya’ mengingat waktu mengatakan sudah pukul 3 pagi melalui bahasa detak jam kesayangan.

Aku bangkit dari pembaringan dengan sangat perlahan, takut membangunkan Adi adikku yang terpulas setelah belajar di kamarku. Aku izinkan ia belajar di kamar dan tidur di kasur bawah tempat tidurku untuk beberapa hari ini menjelang ujian seleksi sekolah pilihannya. Di rumah ini memang hanya kamarku yang memiiki fasilitas belajar lengkap layaknya pustaka kecil.

Sangat pelan aku bergerak, lalu berjalan keluar kamar melalui pintu di sebelah kiri setelah melewati rak berisi buku-buku peninggalan ayah menuju kamar mandi. Air wudhu sungguh menyegarkan. Setelah berwudhu, kembali masuk ke kamar dan kukenakan mukena. Kubentangkan sajadah kecil mengarah kiblat. Aku bersujud.

***

Aku berdoa kepadaNya, Sang Maha Pencipta. Kuutarakan keinginan harapan. Aku tahu bahwa Dia yang lebih tahu mengenai diriku karena Ia Sang Maha Tahu. Doa untuk ayah yang telah berpulang, doa untuk ibu yang mengajar siang-malam untuk menghidupi kami berempat dan keperluan sekolah kami, doa untuk adik-adikku yang tak pernah putus asa dalam belajar. Ya Allah, nikmatnya pengetahuanMu…Ya Allah, izinkanlah kami untuk dapat terus mengecapnya dan menggalinya.

Aku bangkit dari tempat sujudku. Kubuat sajadah yang terbentang tadi terlipat dengan rapi dan kuletakkan di atas kursi belajar. Kubuka mukena yang menutupi hampir seluruh tubuhku. Kurapikan.
Adi, adikku yang pertama terlihat sangat nyaman terpulas diatas pembaringannya. Sungguh damai melihat ia tertidur seperti itu. Aku menghampirinya dan duduk di sebelah tepi pembaringannya.
“Adi…kamu rajin belajar ya…Mudah-mudahan ujian seleksi lusa kamu lancar….”
Aku belai rambutnya yang ikal seperti rambut ayah sembari timbulnya sesak di dada dan desak tangis.
Selalu saja muncul kalimat, “Kedua adikku masih kecil dan Adi perlu biaya untuk masuk ke SMA asrama, kasihan mereka dan ibuku”. Walaupun aku sangat ingin kuliah, aku tak sanggup menuntutnya pada ibu.

***

Jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Aku hampiri meja belajar dengan buku berbaris diatasnya. Aku duduk tepat di depan meja.
“Hhhh…”
Kuhela napas panjang. Tampak surat rekomendasi PMDK dari sekolah yang terletak tepat di depan mata seperti akan menusuk dadaku. Aku buka amplop surat tersebut dan kubaca formulir pengisiannya. Tak terasa titik bulir air mataku jatuh membasahi formulir tersebut. Aku kehilangan kesempatanku.
Sangat berat bebanku. Tak sanggup rasanya jika kesempatan ini hilang melayang begitu saja. Tawaran menginjak PTN dengan biaya pendaftaran gratis kini ada di tanganku. Namun, bagaimana adik-adikku dan juga Adi? Bagaimana dengan biaya perkuliahan disana yang ditanggung para mahasiswa?

Air mataku seperti tumpah, sedu-sedu tangis keluar begitu saja. Tak tahan rasanya aku menanggung beban pengorbanan yang sedemikian berat ini. Cita-cita yang kubangun dari kelas 3 SMP hilang begitu saja. Namun, tidaklah mungkin jika kulupakan adik-adikku begitu saja. Apalagi dengan pengorbanan ibu yang begitu besar. Sepeninggal ayah membuat hati ibu hancur. Lalu, usaha ayah yang ibu kelola pun habis bankrut terkena resesif saat krisis moneter. Tidak mungkin jika aku harus menunggu selama 3 tahun memberi kesempatan Adi bersekolah di sekolah asrama keinginannya. Kelas akselerasi yang dikecap Adi saat SMP sudah memberikan cukup banyak keringanan di keluarga ini. Sangat egois dan kejam jika aku melayang di atmosfer perkuliahan sedangkan ia luntang lantung tak tentu arah.

Tangisku semakin keluar. Hanya tangis ini yang dapat meringankan bebanku walau itu sesaat. Aku langsung bangkit keluar ke ruang keluarga sembari tersedu. Kubuka pintu kamarku. Dan….
“Kamu kenapa Nak….?”
Ibu sudah berdiri tepat di depan pintu. Penuh tanda tanya ia berdiri menatap mataku yang berkaca-kaca. Ibu melihat aku menangis sembari menggenggam formulir PMDK. Menyadari ibu mengetahuinya, serta merta aku peluk ibu. Aku serap kehangatan darinya. Dalam, sangat dalam. Dan pecahlah tangis kami.

Pukul 15.15
Bandung, 6 April 2008

Bagus Tri Nuscahyo

Nb : Ngarangnya sesudah mumet ngerjain laporan dan jurnal kimia. Kalo jelek, dimaklumi aja ya…^_^

1_593920320l

1 Comment

Filed under Perjalanan Hidup

One response to “tentang ibu

  1. nurul

    Tersentak bahwa aku belum menunaikan shalat Isya’ mengingat waktu mengatakan sudah pukul 3 pagi melalui bahasa detak jam kesayangan.

    wah,,wah…wgawat niyh..hehe..

    peace!!

    eg,,gus,,
    ceritanya beneran??

    jadi terharuu klo gitu…

    semangat ya..

    maafkan diriku yaph,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s